Senin, 13 Mei 2013

MANFAAT EKSTRAKULIKULER PMR (SOSIOLOGI)



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah

Ekstrakulikuler adalah kegiatan yang selalu ada hampir di setiap sekolah. Baik sekolah ditingkat SD, SMP,maupun SMA. Bahkan di perguruan tinggipunnada kegiatan ekstrakulikuler. Eksrakulikuler di suatu sekolah hampir sama dengan sekolah lain. Ektrakulikuler yang biasanya ada disetiap sekolah baik SD, SMP, maupun SMA adalah ekstrakulikuler Pramuka dan PMR. Namun, selain ekstarkulikuler tersebut sekolah juga mempunyai ekstrakulikuler lain seperti ektrakulikuler komputer, pecinta alam, irma, bahkan ekstrakulikuler bela diri.
Ekstrakulikuler merupakan kegiatan yang menyenangkan sehingga banyak diminati oleh para siswa di sekolah. Para siswa dapat memanfaatkan waktu luangnya untuk mengikuti kegiatan ektrakulikuler tersebut. Selain dapat digunakan untuk mengisi waktu luang siswa, ektrakulikuler juga mempunyai banyak manfaat untuk siswa itu sendiri. Semua ekstrakulikuler tentu bermanfaat untuk siswa itu sendiri. Tujuan diadakan ekstrakulikuler adalah untuk meningkatkan kedisiplinan, kepribadian, bahkan kreatifitas siswa. Dengan banyaknya manfaat itu, kegiatan ekstrakulikuler tentu sangat menguntungkan untuk siswa sendiri. Salah satu kegiatan ektrakulikuler yang mempunyai banyak manfaat adalah ekstrakulikuler PMR.
SMA N 2 Cilacap adalah salah satu sekolah yang mempunyai kegiatan ekstrakulikuler yang sangat banyak. Salah satunya adalah ektrakulikuler PMR. Kegiatan ekstrakulikuler PMR dapat diikuti oleh seluruh siswa, baik dari kelas X, XI, dan XII. Para siswa diajarkan untuk bersikap peduli, bersahabat, kerjasama, dan  yang paling penting adalah mempunyai kreatifitas. Kegiatan ekstrakulikuler di SMA N 2 Cilacap selalu menyelenggarakn kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk siswa, namun tidak membosankan. Kegiatan-kegiatan itu dapat mengajakan siswauntuk mempunyai sikap kepemimpinan, saling peduli, melatih kerjasama, dll. Contoh kegiatan itu adalah belajar membuat dlagbar, pengenalan obat-obatan,cara menangani orang yang mengalami kecelakaan, pratek penanganan korban,. Selain itu kegiatan PMR juga sering membuat majalah dinding (mading) yang berisi kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para anggota PMR itu sendiri.
Maka dari itu, kami mengambil judul penelitian ini “Manfaat Ekstrakulikuler PMR bagi kreatifitas siswa di SMA N2 Cilacap” karena menarik untuk diteliti lebih dalam agar dapat mengetahui manfaat untuk siswa di SMA N 2 Cilacap.

B.    Rumusan Masalah
- Apa manfaat ekstrakulikuler PMR terhadap kreatifitas siswa di SMA Negeri  2 Cilacap
- Bagaimana upaya untuk meningkatkan kreatifitas siswa melalui ekstrakulikuler PMR?


C.      Tujuan Penulisan
- Untuk mengetahui manfaat ekstrakulikuler PMR terhadap kreatifitas sisw di SMA N 2 Cilacap.
- Untuk mengetahui upaya untuk meningkatkan kreatifitas siswa melalui ekstrakulikuler PMR

D.    Kegunaan
a. Bagi pembaca
- Untuk bahan studi banding bagi ilmu studi yang relevan :
- Sebagai bahan masukan atau sumber wawasan khususnya bagi masyarakat pada umumnya.
- Untuk meningkatkan inovasi, daya kreasi, jiwa kreatifitas terhadap ekstrakulikuler PMR.

b. Bagi Penulis
-Untuk mengembangkan pola pikir kritis, kreatif, dan inovatif.

BAB II
KERANGKA TEORI


                    Teori yang mendasari

1. Pengertian Kegiatan Ekstra Kurikuler
Kegiatan Ekstra Kurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/madrasah.
2. Visi dan Misi
a.   Visi
Visi kegiatan ekstra kurikuler adalah berkembangnya potensi, bakat dan minat secara optimal, serta tumbuhnya kemandirian dan kebahagiaan peserta didik  yang berguna untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat.
b.   Misi
1)   Menyediakan sejumlah kegiatan yang dapat dipilih oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka.
2)   Menyelenggarakan kegiatan yang memberikan kesempatan peserta didik mengespresikan  diri secara bebas melalui kegiatan mandiri dan atau kelompok.
3.   Fungsi Kegiatan Ekstra Kurikuler
a.   Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka.
b.   Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik
c.   Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan.
d.   Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik.
4.   Prinsip Kegiatan Ekstra Kurikuler
a.   Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan potensi, bakat dan minat peserta didik masing-masing.
b.   Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan keinginan dan diikuti secara sukarela peserta didik.
c.   Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang menuntut keikutsertaan peserta didik secara penuh.
d.   Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler dalam suasana yang disukai dan mengembirakan peserta didik.
e.   Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang membangun semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil.
f.    Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat.
5.   Jenis kegiatan Ekstra Kurikuler
a. Krida, meliputi Kepramukaan, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA).
b. Karya Ilmiah, meliputi Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian.
c. Latihan/lomba keberbakatan/prestasi, meliputi pengembangan bakat olah raga, seni dan budaya, cinta alam, jurnaistik, teater, keagamaan.
d. Seminar, lokakarya, dan pameran/bazar, dengan  substansi antara lain karir, pendidikan, kesehatan, perlindungan HAM, keagamaan, seni  budaya.
6.   Format Kegiatan
a.   Individual, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik secara perorangan.
b.   Kelompok, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti oleh kelompok-kelompok peserta didik.
c.   Klasikal, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik dalam satu kelas.
d.   Gabungan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik antarkelas/antarsekolah/madraasah.
e.   Lapangan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau kegiatan lapangan.
a. Pengertian PMR
Palang Merah Remaja atau PMR adalah wadah pembinaan dan pengembangan anggota remaja yang dilaksanakan oleh Palang Merah Indonesia. Terdapat di PMI Cabang seluruh Indonesia dengan anggota lebih dari 1 juta orang. Anggota PMR merupakan salah satu kekuatan PMI dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan kemanusiaan dibidang kesehatan dan siaga bencana, mempromosikan Prinsip-Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, serta mengembangkan kapasitas organisasi PMI.
b.Sejarah PMR
Terbentuknya Palang Merah Remaja dilatar belakangi oleh terjadinya Perang Dunia I (1914 – 1918) pada waktu itu Austria sedang mengalami peperangan. Karena Palang Merah Austria kekurangan tenaga untuk memberikan bantuan, akhirnya mengerahkan anak-anak sekolah supaya turut membantu sesuai dengan kemampuannya. Mereka diberikan tugas – tugas ringan seperti mengumpulkan pakaian-pakaian bekas dan majalah-majalah serta Koran bekas. Anak-anak tersebut terhimpun dalam suatu badan yang disebut Palang Merah Pemuda (PMP) kemudian menjadi Palang Merah Remaja (PMR).
Pada tahun 1919 di dalam sidang Liga Perhimpunan Palang Merah Internasional diputuskan bahwa gerakan Palang Merah Remaja menjadi satu bagian dari perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Kemudian usaha tersebut diikuti oleh negara-negara lain. Dan pada tahun 1960, dari 145 Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah sebagian besar sudah memiliki Palang Merah Remaja.
Di Indonesia pada Kongres PMI ke-IV tepatnya bulan Januari 1950 di Jakarta, PMI membentuk Palang Merah Remaja yang dipimpin oleh Ny. Siti Dasimah dan Paramita Abdurrahman. Pada tanggal 1 Maret 1950 berdirilah Palang Merah Remaja secara resmi di Indonesia.
c. Pendidikan dan pelatihan PMR
Palang Merah Remaja atau PMR adalah organisasi kepemudaan binaan dari Palang Merah Indonesia yang berpusat di sekolah-sekolah dan bertujuan memberitahukan pengetahuan dasar kepada siswa sekolah dalam bidang yang berhubungan dengan kesehatan umum dan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.
Untuk mendirikan atau menjadi anggota palang merah remaja disekolah, harus diadakan Pendidikan dan Pelatihan Diklat untuk lebih mengenal apa itu sebenarnya PMR dan sejarahnya mengapa sampai ada di Indonesia, dan pada diklat ini para peserta juga mendapatkan sertifikat dari PMI. Dan baru dianggap resmi menjadi anggota palang merah apabila sudah mengikuti seluruh kegiatan yang diadakan oleh palang merah remaja disekolah.
PMI mengeluarkan kebijakan pembinaan PMR:
                    Remaja merupakan prioritas pembinaan, baik dalam keanggotaan maupun kegiatan
kepalangmerahan.
                    Remaja berperan penting dalam pengembangan kegiatan kepalangmerahan.
                    Remaja berperan penting dalam perencanaan, pelaksanaan kegiatan dan proses pengambilan
keputusan untuk kegiatan PMI.
                    Remaja adalah kader relawan.
                    Remaja calon pemimpin PMI masa depan.
Tujuan pembinaan dan pengembangan PMI masa depan:
                    Penguatan kualitas remaja dan pembentukan karakter.
                    Anggota PMR sebagai contoh dalam berperilaku hidup sehat bagi teman
sebaya.
                    Anggota PMR dapat memberikan motivasi bagi teman sebaya untuk
berperilaku hidup sehat.
                    Anggota PMR sebagai pendidik remaja sebaya.
                    Anggota PMR adalah calon relawan masa depan.
Jumbara
Jumbara atau Jumpa Bhakti Gembira adalah kegiatan besar organisasi PMR seperti halnya jambore pada organisasi Pramuka.Jumbara diadakan dalam setiap tingkatan. Ada jumbara tingkat kabupaten, daerah dan Jumbara Nasional. dimana pelaksanaanya disesuaikan dengan kemampuan PMI daerah yang bersangkutan.
Tribakti PMR
dalam PMR ada tugas yang harus dilaksanakan, dalam PMR dikenal tri bakti yang harus diketahui, dipahami dan dilaksanakan oleh semua anggota. TRIBAKTI PMR (2009) tersebut adalah:
                    Meningkatkan keterampilan hidup sehat
                    Berkarya dan berbakti kepada masyarakat
                    Mempererat persahabatan nasional dan internasional.
Tingkatan PMR
Di Indonesia dikenal ada 3 tingkatan PMR sesuai dengan jenjang pendidikan atau usianya
        PMR Mula adalah PMR dengan tingkatan setara pelajar Sekolah Dasar (10-12
tahun). Warna emblem Hijau
                    PMR Madya adalah PMR dengan tingkatan setara pelajar Sekolah Menengah
Pertama (12-15 tahun). Warna emblem Biru Langit
                    PMR Wira adalah PMR dengan tingkatan setara pelajar Sekolah Menengah
Atas (15-17 tahun). Warna emblem Kuning
Prinsip Dasar kepalang-merahan
Dalam PMR dikenalkan 7 Prinsip Dasar yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh setiap anggotanya. Prinsip-prinsip ini dikenal dengan nama"7 Prinsip Dasar Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional" (Seven Fundamental Principle of Red cross and Red Crescent).
                    Kemanusiaan
Gerakan Palang Merah dan Bibit Sabit Merah lahir dari keinginan untuk memberikan pertolongan kepada korban yang terluka dalam pertempuran tanpa membeda-bedakan mereka dan untuk mencegah serta mengatasi penderitaan sesama. Tujuannya ialah melindungi jiwa dan kesehatan serta menjamin penghormatan terhadap umat manusia. Gerakan menumbuhkan saling pengertian, kerja sama dan perdamaian abadi antar sesama manusia.
                    Kesamaan
Gerakan memberi bantuan kepada orang yang menderita tanpa membeda-bedakan mereka berdasarkan kebangsaan, ras, agama, tingkat sosial atau pandangan politik. tujuannya semata-mata ialah mengurangi penderitaan orang lain sesuai dengan kebutuhannya dengan mendahulukan keadaan yang paling parah.
                    Kenetralan
Gerakan tidak memihak atau melibatkan diri dalam pertentangan politik, ras,
agama, atau ideologi.
                    Kemandirian
Gerakan bersifat mandiri, setiap perhimpunan Nasional sekalipun merupakan pendukung bagi pemerintah dibidang kemanusiaan dan harus mentaati peraturan hukum yang berlaku dinegara masing-masing, namun gerakan bersifat otonom dan harus menjaga tindakannya agar sejalan dengan prinsip dasar gerakan.
                    Kesukarelaan
Gerakan memberi bantuan atas dasar sukarela tanpa unsur keinginan untuk
mencari keuntungan apapun.
                    Kesatuan
Didalam satu Negara hanya boleh ada satu perhimpunan Nasional dan hanya boleh memilih salah satu lembaga yang digunakan Palang Merah Bulan Sabit Merah. Gerakan bersifat terbuka dan melaksanakan tugas kemanusiaan diseluruh wilayah negara bersangkutan.
                    Kesemestaan
Gerakan bersifat semesta. Artinya, gerakan hadir diseluruh dunia. Setiap perhimpunan Nasional mempunyai status yang sederajat, serta memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dalam membantu sama lain.
Pengertian Kreativitas
merupakan suatu bidang kajian yang kompleks, yang menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Perbedaan definisi kreativitas yang dikemukakan oleh banyak ahli merupakan definisi yang saling melengkapi. Sudut pandang para ahli terhadap kreativitas menjadi dasar perbedaan dari definisi kreativitas. Definisi kreativitas tergantung pada segi penekanannya, kreativitas dapat didefinisikan kedalam empat jenis dimensi sebagai Four P’s Creativity, yaitu dimensi Person,Proses, Press dan Product sebagai berikut :
1. Definisi kreativitas dalam dimensi Person
Definisi pada dimensi person adalah upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada individu atau person dari individu yang dapat disebut kreatif.
“Creativity refers to the abilities that are characteristics of creative people” (Guilford, 1950 dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001)
“Creative action is an imposing of one’s own whole personality on the environment in an unique and characteristic way”
(Hulbeck, 1945 dikutip Utami Munandar, 1999)
Guilford menerangkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan atau kecakapan yang ada dalam diri seseorang, hal ini erat kaitannya dengan bakat. Sedangkan Hulbeck menerangkan bahwa tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya. Definisi kreativitas dari dua pakar diatas lebih berfokus pada segi pribadi.
2. Kreativitas dalam dimensi Process
Definisi pada dimensi proses upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada proses berpikir sehingga memunculkan ide-ide unik atau kreatif.
“Creativity is a process that manifest in self in fluency, in flexibility as well in originality of thinking” (Munandar, 1977 dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001).
Utami Munandar menerangkan bahwa kreativitas adalah sebuah proses atau kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibititas), dan orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci), suatu gagasan. Pada definisi ini lebih menekankan pada aspek proses perubahan (inovasi dan variasi). Selain pendapat yang diuraikan diatas ada pendapat lain yang menyebutkan proses terbentuknya kreativitas sebagai berikut :
Wallas (1976) dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001 mengemukakan empat tahap dalam proses kreatif yaitu :
Tahap Persiapan; adalah tahap pengumpulan informasi atau data sebagai bahan untuk memecahkan masalah. Dalam tahap ini terjadi percobaan-percobaan atas dasar berbagai pemikiran kemungkinan pemecahan masalah yang dialami.
Inkubasi; adalah tahap dieraminya proses pemecahan masalah dalam alam prasadar. Tahap ini berlangsung dalan waktu yang tidak menentu, bisa lama (berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun), dan bisa juga hanya sebentar (hanya beberapa jam, menit bahkan detik). Dalam tahap ini ada kemungkinan terjadi proses pelupaan terhadap konteksnya, dan akan teringat kembali pada akhir tahap pengeraman dan munculnya tahap berikutnya.
Tahap Iluminasi; adalah tahap munculnya inspirasi atau gagasan-gagasan untuk memecahkan masalah. Dalam tahap ini muncul bentuk-bentuk cetusan spontan, seperti dilukiskan oleh Kohler dengan kata-kata now, I see itu yang kurang lebihnya berarti “oh ya”.

Tahap Verifikasi; adalah tahap munculnya aktivitas evaluasi tarhadap gagasan secara kritis, yang sudah mulai dicocokkan dengan keadaan nyata atau kondisi realita.
Dari dua pendapat ahli diatas memandang kreativitas sebagai sebuah proses yang terjadi didalam otak manusia dalam menemukan dan mengembangkan sebuah gagasan baru yang lebih inovatif dan variatif (divergensi berpikir).
3. Definisi Kreativitas dalam dimensi Press
Definisi dan pendekatan kreativitas yang menekankan faktor press atau dorongan, baik dorongan internal diri sendiri berupa keinginan dan hasrat untuk mencipta atau bersibuk diri secara kreatif, maupun dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis. Definisi Simpson (1982) dalam S. C. U. Munandar 1999, merujuk pada aspek dorongan internal dengan rumusannya sebagai berikut :
“The initiative that one manifests by his power to break away from the usual sequence of thought”
Mengenai “press” dari lingkungan, ada lingkungan yang menghargai imajinasi dan fantasi, dan menekankan kreativitas serta inovasi. Kreativitas juga kurang berkembang dalam kebudayaan yang terlalu menekankan tradisi, dan kurang terbukanya terhadap perubahan atau perkembangan baru.
1.      Definisi Kreativitas dalam dimensi Product
Definisi pada dimensi produk merupakan upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada produk atau apa yang dihasilkan oleh individu baik sesuatu yang baru/original atau sebuah elaborasi/penggabungan yang inovatif.
“Creativity is the ability to bring something new into existence”
(Baron, 1976 dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001)
Definisi yang berfokus pada produk kreatif menekankan pada orisinalitas, seperti yang dikemukakan oleh Baron (1969) yang menyatakan bahwa kreatifitas adalah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru. Begitu pula menurut Haefele (1962) dalam Munandar, 1999; yang menyatakan kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial. Dari dua definisi ini maka kreatifitas tidak hanya membuat sesuatu yang baru tetapi mungkin saja kombinasi dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya.
Dari berbagai pengertian yang dikemukakan oleh para ahli untuk menjelaskan makna dari kreativitas yang dikaji dari empat dimensi yang memberikan definisi saling melengkapi. Untuk itu kita dapat membuat berbagai kesimpulan mengenai definisi tentang kreativitas dengan acuan beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli.
Dari beberapa uraian mengenai definisi kreativitas yang dikemukakan diatas peneliti menyimpulkan bahwa :

“Kreativitas adalah proses konstruksi ide yang orisinil (asli), bermanfaat, variatif (bernilai seni) dan inovatif (berbeda/lebih baik)”.
                    Ringkasan dan kerangka pikir peneliti
                    Hipotesis
Hipotesis yang didapat adalah ' Mungkin kegiatan ekstrakulikuler PMR dapat mempengaruhi kreatifitas siswa di SMA Negeri 2 Cilacap.









BAB III

METODOLOGI

*        Pendekatan Penelitian
*                    Pendekatan Tehnik sampling, terbagi menjadi:
*                    Pendekatan populasi yaitu penelitian dengan menggunakan seluruh anggota populasi sebagai subyek penelitian dan seluruh unsur/elemen menjadi kesatuan yang diteliti.
*                    Pendekatan sampel yaitu apabila hanya sebagian dari anggota populasi yang diteliti, dan bagian populasi yang diteliti dianggap memiliki karakteristik yang mewakili populasi tersebut.
*                    Pendekatan studi kasus adalah pendekatan yang dilakukan pada penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam terhadap suatu masyarakat/kelompok sosial ataupun fenomena sosial tertentu.

*                    Pendekatan berdasarkan timbulnya variabel, terbagi menjadi:
*                    Pendekatan eksperimen yaitu penelitian dengan menggunakan variabel yang sengaja dimunculkan melalui percobaan.
*                    Pendekatan non eksperimen yaitu penelitian dengan menggunakan variabel yang sudah ada sehingga, peneliti tidak perlu mengusahkan timbulnya variabel. Menurut sifatnya penelitian non eksperimen dibagi menjadi:
*                    Penelitian kasus (case studies) yaitu penelitian mendalam tentang suatu “hal”/fenomena sosial
*                    Penelitian komparatif merupakan penelitian perbandingan antara dua/lebih gejala sosial ataupun hal yang diteliti
*                    Penelitian korelasi yaitu penelitian tentang hubungan antara dua atau lebih variable alam suatu gejala sosial ataupun dalam fenomena yang diteliti
*                    Penelitian historis (sejarah) yaitu penelitian dengan mempertimbangkan proses yang terjadi dari masa lalu sampai sekarang
*                    Penelitian filosofis yaitu penelitian yang berkaitan dengan filsafat
*                    Pendekatan menurut model pengembangan, terbagi menjadi:
*                    Pendekatan one shot model yaitu penelitian yang menggunakan satu kali pengumpulan data pada suatu saat dengan subyek penelitian yang sama
*                    Pendekatan longitudinal/pendekatan bujur yaitu penelitian yang memanjang menurut waktu dengan menggunakan subyek penelitian individu yang sama.
*                    Pendekatan Cross Sectional Model/silang yaitu gabungan antara pendekatan one shot model dan longitudinal yaitu penelitian pada satu waktu dan menggunakan subyek penelitian yang berbeda.
*                    Pendekatan menurut desain/rancangan penelitian, menurut Shah dalam buku: Research Methods in Social Relations, yang dikutip oleh Natsir, desain penelitian dibagi menjadi enam yaitu:
*                    Desain penelitian yang ada kontrol, yang meliputi desain percobaan dan non percobaan.
*                    Desain untuk studi deskriptif – Analisis yaitu: Desain deskriptif dibuat untuk menemukan fakta untuk interpretasi yang tepat, tetapi pada studi analisis, interpretasi (analisa) dilakukan untuk menguji hipotesis-hipotesis dan meneliti lebih dalam tentang korelasi/hubungan antar variabel.
*                    Desain untuk penelitian lapangan: pada penelitian lapangan lebih banyak menggunakan metode studi kasus dan metode survei dengan tehnik pengamatan maupun pengambilan sampel.
*                    Desain penelitian dalam hubungan dengan waktu: pada penelitian dengan penelitian dengan percobaan dan penelitian dengan menggunakan pendekatan sejarah, termasuk penelitian survei yang menggunakan pendekatan longitudinal (melihat perkembangan & tren)
*                    Desain untuk studi evaluatif dan non evaluatif. Penelitian evaluatif: merupakan penelitian yang berhubungan dengan keputusan adminitratif terhadap aplikasi hasil penelitian.
*                     
*                    Desain penelitian dengan data primer atau sekunder, jika yang diinginkan adalah data primer maka desain yang dibuat harus menjamin pengumpulan data yang efisien dengan alat dan tehnik serta karakteristik dari responden melalui observasi, informan, quesioner dan wawancara.
   Disini peneliti akan menggunakan pendekatan penelitian Tehnik Sampling, karena pendekatan Tehnik Sampling sangat sesuai dengan judul penelitian yaitu “Manfaat Ekstrakulikuler PMR terhadap Kreatifitas Siswa di SMA Negeri 2 Cilacap”
*        Jenis Penelitian
Penelitian berdasarkan jenis data yang dikumpulkan yaitu
a. penelitian kuantitatif yaitu penelitian dengan menggunakan data yang berupa angka atau menekankan pada jumlah data yang dikumpulkan.
b. Penelitian kualitatif yaitu penelitian dengan data yang diperoleh dinyatakan dalam bentuk tanggapan dan perasaan serta opiniatay dengan kata lain menekankan pada kedalaman data/kualitas.
*        Subyek Penelitian
Yang akan terlibat dalam penelitian ini adalah siswa kelas X, kelas XI, dan pembina ekstrakurikuler PMR SMA Negeri 2 Cilacap.
*        Tekhnik Pengumpulan Data
a. Angket
 Yaitu cara pengumpulan data dengan menyebar sejumlah lembar kertas pada responden yang berisi prtanyaan yang harus dijawab kemudian dikembalikan kepada peneliti.
b. Observasi
 Yaitu tekhnik pengumpulan data dengan menggunakan pengamatan secara  
 langsung menggunakan panca indera.
c. Wawancara
                                Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab yang dilakukan antara pewawancara dengan responden atau narasumber.
                           d. Studi Kepustakaan
                                Yaitu kegiatan pengumpulan data melalui berbagai informasi dan sumber seperti buku, naskah, dan dokumen termasuk rekaman.
*        Tekhnik Analisis Data
Tekhnik analisis data yang digunakan adalah metode kuantitatif yaitu tekhnik analisis data non statistik yaitu data yang berupa kalimat-kalimat.


BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A.                KESIMPULAN
a.                           Manfaat ekstrakulikuler PMR terhadap tingkat kreatifitas siswa SMA Negeri 2 Cilacap :
·            Penguatan kualitas remaja dan pembentukan karakter.
·            Anggota PMR sebagai contoh dalam berperilaku hidup sehat
bagi teman sebaya.
·            Anggota PMR dapat memberikan motivasi bagi teman sebaya
untuk berperilaku hidup sehat.
·            Anggota PMR sebagai pendidik remaja sebaya.
·            Anggota PMR adalah calon relawan masa depan.
b.             Upaya meningkatkan kreatifitas siswa melalui ekstrakulikuler
                 PMR :
           Kemanusiaan
           Kesamaan
           Kenetralan
           Kemandirian
           Kesukarelaan
           Kesatuan
           Kesemestaan


B.        SARAN
a.                           Bagi Pembaca
·            Sebaiknya menjadikan makalah ini sebagai bahan studi banding bagi ilmu studi yang relevan.
·            Menjadikan ini untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan dalam rangka pengembang teori yang sudah ada dan relevan.
·            Menjadikan ini untuk memberi informasi dan dukungan secara ilmiah
·            Sebaiknya digunakan sebagai kontribuksi potensi anak bangsa dalam tingkat kreatifitas
·            Sebaiknya digunakan sebagai tolak ukur dalam meningkatkan pemanfaatan Ekstrakulikuler

b.                            Bagi Penulis
·            Menjadikan ini sebagai pantauan hasil kerja masyarakat di luar
 sana
·            Menjadikan ini untuk perbaikan apabila ada kegagalan dalam
meneliti
·            Menjadikan ini untuk penyuluhan kepada masyarakat sekitar
·            Menjadikan ini untuk bahan meneliti agar dapat hasil yang baik


 

1 komentar: